Bukit Babi dan Taman Nasional Danau Sentarum, Putussibau

Perjalanan ini dimulai ketika aku menerima DM Instagram dari Abangku, “Ky, nikahan Abang dateng ya. Fix 21 Maret”. Singkat, namun cukup mengaduk emosi. Rasa bahagia datang bersamaan dengan rasa bingung, “bisa cuti gak ya?”.

Beliau adalah orang yang cukup berpengaruh dalam hidup saya, hampir tidak mungkin untuk menolak undangan ini. Pernikahan dilangsungkan pada hari kerja dan tidak tanggung-tanggung, acara dilaksanakan di Pulau Kalimantan tepatnya di sebuah daerah bernama Putussibau.

Di saat itu juga aku pesimis manajer akan memberikan cuti yang cukup lama. Singkat cerita, dengan modal keyakinan akhirnya manajer memberi izin dan perjalanan pun dimulai.

Bus antar kota di Putussibau

Bus antar kota di Putussibau

Jakarta, Pontianak kemudian Putussibau

Tanggal 19 Maret 2019, Pontianak merupakan destinasi pertama yang kutempuh dengan pesawat selama kurang lebih satu setengah jam. Penerbangan dari Jakarta sesore itu tidak memungkinkan aku untuk melanjutkan perjalanan ke Putussibau menggunakan pesawat juga.

Setibanya di Pontianak, atas rekomendasi keluarga di sana, aku disuruh mengunjungi kos kakak sepupuku untuk beristirahat sembari menunggu waktu penjemputan taksi menuju Putussibau. Jadi, karena tidak mungkin menggunakan pesawat ke sana, aku sudah dipesankan tiket taksi bersama kakak sepupuku ini.

Isya itu, setelah salat, datang juga taksi yang ditunggu. Jangan bayangkan seperti di kota-kota besar, taksi ini merupakan sebuah mobil Kijang Innova yang penghuninya bukan penumpang normal saja.

Mobil tersebut mengangkut juga paket-paket berukuran besar baik itu sembako, alat rumah tangga dan lainnya untuk dikirimkan ke daerah-daerah yang  kebetulan satu rute. Ini salah satu pengalaman unik yang bisa temen-temen coba juga.

Jalanan di Putussibau, Kalimantan Barat

Jalanan di Putussibau, Kalimantan Barat

Tak lama, taksi pun memulai perjalanannya. Hasil ngobrol-ngobrol dengan supir, perjalanan ini paling lama akan ditempuh dalam waktu 16 jam. Aku membayangkan jika ini pulau Jawa, perjalananku dari Jakarta akan membawaku ke suatu daerah di Jawa Timur sana dengan durasi perjalanan sepanjang itu. Benar-benar perjalanan yang sangat panjang hanya untuk sekedar berpindah kota.

Empat jam pertama telah dilalui, di tengah malam kami beristirahat di sebuah rest area untuk mengisi perut agar tidak masuk angin selama perjalanan panjang. Sama halnya dengan orang-orang di pulau Jawa, pedagang di sini cukup ramah dan aku sempat memiliki obrolan panjang dengan pedagang tersebut. Pedagang tersebut juga meyakinkanku bahwa perjalanan ini akan aman-aman saja, syukurlah.

Perjalanan pun berlanjut hingga pukul 5 pagi keesokan harinya. Kami beristirahat kembali untuk salat dan sarapan. Kembali kami menemukan orang-orang yang cukup ramah untuk berbincang selama masa istirahat kami.

Kembali ke Putussibau, Tanah Kelahiran Ibuku

Perut sudah terisi, kami melanjutkan perjalanan kembali. Akhirnya, jam 11 siang, perjalananku berakhir. Aku menginap di salah satu rumah pamanku. Rumah yang masih menyisakan ciri khas Adat Borneo, di mana rumah lain sekitarnya sudah mengadopsi konsep rumah permanen masa kini.

Setibanya di rumah paman, aku disambut dengan sangat ramai oleh sanak saudara. Sambutan mereka begitu meriah, sejenak membuatku lupa dengan rasa lelah setelah melakukan perjalanan panjang. Wajar saja, ini kedatanganku kembali setelah enam tahun tidak menyentuh tanah kelahiran ibuku.

Rumah tradisional di Putussibau

Rumah tradisional di Putussibau

Beberapa anggota keluarga ada yang baru aku jumpai, tapi rasanya seperti sudah akrab lama. Sungguh kesan yang luar biasa di menit-menit awal kedatanganku. Setelah lama bercengkerama dengan keluarga, aku pun beristirahat agar fit saat agenda penting besok.

21 Maret 2019, hari pernikahan pun tiba. Aku dibalut baju adat Melayu, menjadi pengiring pengantin Abangku. Pengalaman yang menyenangkan mengetahui uniknya budaya dalam pernikahan tersebut. Memang terkesan ribet, tapi menurutku sangat unik dan lucu. Akhirnya, acara pernikahan selesai dan aku pun kembali untuk beristirahat.

Menuju Taman Nasional Danau Sentarum dan Bukit Babi

Petualangan menuju Bukit Babi pun dimulai. Hasil diskusi singkat semalam, aku dan beberapa saudaraku sepakat untuk berangkat jam 8 pagi. Bukit Babi berada di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum dengan  beberapa opsi destinasi wisata di dalamnya.

Atas saran alah satu saudara, Bukit Babi yang kami pilih karena paling memungkinkan untuk dikunjungi dalam waktu yang sangat terbatas. Namun akses menuju ke sana hanya bisa ditempuh oleh sepeda motor dengan medan berbatu yang cukup menantang. Tapi tak apalah, pasti akan menjadi pengalaman yang sangat seru.

Akhirnya setelah membawa beberapa perbekalan, kami pun berangkat. Perjalanan ini memakan waktu selama kurang lebih 3 jam. Jaraknya hampir mirip dengan perjalanan Bandung-Jakarta menggunakan tol. Beruntung cuaca saat itu sangat bersahabat untuk kami yang menggunakan sepeda motor.

Pohon rindang di Bukit Babi

Pohon rindang di Bukit Babi

Hutan Kalimantan yang sejuk beserta pemandangannya yang khas benar-benar memanjakan mata, membuat perjalanan ini tidak membosankan sama sekali. Kampung demi kampung kami lewati, kemudian singgah di salah-satunya untuk sekedar istirahat, makan dan mengisi bensin.

Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan dan medan yang berat pun mulai kami jumpai. Tidak ada lagi jalanan beraspal seperti dua jam perjalanan sebelumnya, sekarang cukup ekstrem dengan bebatuan berukuran besar. Memang disarankan menggunakan motor trail atau motor besar dengan ban yang disesuaikan untuk medan seperti ini, karena akan lebih aman dan nyaman mengingat cuaca pun tidak bisa diprediksi.

Mitos Unik di Bukit Babi

Setelah melakukan perjalanan yang berat selama satu jam, kami pun sampai di kaki Bukit Babi. Kami parkir di jalan yang cukup lebar. Tidak ada petugas parkir maupun tiket yang terlihat di sana, namun keamanan tetap terjamin. Lalu kami melanjutkan perjalanan menaiki bukit dengan berjalan kaki.

Pemandangan indah tersaji selama pendakian. Mulai dari pemandangan kebun hingga Danau Sentarum itu sendiri. Benar-benar indah melihat kawasan danau tersebut dari ketinggian.

Beberapa meter sebelum puncak, kami menjumpai ilalang-ilalang yang cukup tinggi. Keindahannya pun mulai terlihat. Puncak Bukit Babi nampak mirip seperti wallpaper pada Windows XP. Aku sempat berpikir apa mungkin fotografer Microsoft mengambil foto di tempat ini, candaku.

Akhirnya, sampailah di puncak bukit. Puncak tersebut memiliki dataran yang cukup luas. Jika cuaca bersahabat, kadang tempat tersebut dijadikan sebagai tempat berkemah. Tapi kalau cuaca buruk, jangan coba-coba mendirikan tenda di sana atau malah musibah yang akan menghampiri.

Pemandangan ala wallpaper windows

Pemandangan ala wallpaper windows

Di tengah hari yang terik, pemandangan dari puncak benar-benar indah. Jajaran gunung dengan hutan-hutan lebatnya beserta pemandangan kawasan Taman Nasional Danau Sentarum membuat aku lupa dengan rasa lelah setelah mendaki. Di puncak kami tak lama berhubung cuaca yang sedang terik-teriknya.

Setelah mengambil beberapa gambar dengan kamera, kami turun sedikit menuju pepohonan teduh untuk sekedar istirahat sembari menikmati perbekalan kami. Setelah beberapa lama menikmati dan bersantai di bukit, kami pun turun dan memutuskan untuk pulang.

Perjalanan panjang menanti kami dan tidak ingin terlalu malam untuk sampai ke rumah. Namun ada satu hal menarik yang terjadi ketika dalam perjalanan pulang. Bukit Babi memiliki mitos yang cukup kuat bagi orang yang sudah pernah berkunjung ke sana. Kata salah satu saudaraku, di dalam satu grup, salah satu dari mereka akan kehilangan barang kesayangannya setelah mengunjungi bukit.

Kacamata yang jadi pembukti mitos di Bukit Babi

Kacamata yang jadi pembukti mitos di Bukit Babi

Percaya tidak percaya, beberapa peristiwa kehilangan memang terjadi, termasuk aku sendiri. Ketika beristirahat di sungai dalam perjalanan pulang, aku kehilangan kacamata kesayanganku. Sejenak teringat dengan mitos yang saudaraku ceritakan. Tapi sudahlah, aku pun tidak ingin ambil pusing, mungkin memang sudah ditakdirkan untuk kehilangan.

Itulah akhir petualanganku di Bukit Babi, salah satu pengalaman yang tidak akan terlupakan dan ini destinasi yang wajib kamu coba jika ada kesempatan mengunjungi Kalimantan Barat. Sampai jumpa di catatan perjalanan selanjutnya!

Leave a Reply

Tags: ,
Kumpulan Foto Trip ke Beberapa Pantai di Pacitan
Masjid Agung Alun-Alun kota Bandung
Kumpulan Foto Sabtu Pagi di Kota Bandung
Berdiri di Perahu
Kumpulan Foto Trip Situ Cileunca Pangalengan
Kumpulan Foto Trip Yogjakarta!