Yang Penting Explore Bareng, Cirebon – Semarang

Lama tidak traveling bersama, akhirnya membuat Saya, Dicky, Fajzar dan Dimas memutuskan untuk pergi ke Cirebon. Dimas merupakan makhluk yang paling sulit sekali kita temui, padahal tinggal di kota yang sama. Traveling kali ini tidak kami persiapkan sama sekali, sehingga kemanapun kami pergi ditentukan secara spontan.

Nongkrong di Kota Lama

Nongkrong di Kota Lama

Pesta Pernikahan Teman di Cirebon

Ketika menerima kabar bahwa salah satu teman SMA akan menikah, kamipun bergegas mempersiapkan perjalanan menuju ke tempat resepsi berlangsung yang kebetulan berada di daerah Cirebon. Acara tersebut dilaksanakan pada weekend, yang kebetulannya lagi bertepatan dengan hari libur kami.

Kami memutuskan untuk pergi di hari Sabtu pagi menggunakan mobil. Jarak dari Jakarta menuju Cirebon terbilang dekat, hanya perlu ditempuh sekitar 2-3 jam saja melewati jalan tol. Sejak Jumat malam kami sudah berkumpul, menginap di basecamp di daerah Jakarta Selatan dan memulai perjalanan pada pukul 05.30 pagi.

Amunisi dan perlengkapan sudah siap, ditambah dengan supir yang memadai, kami pun siap untuk pergi ke Cirebon. Ini kali pertama saya mengendarai mobil langsung melewati jalan Tol Layang Jakarta – Cikampek (JAPEK). Tidak ada yang special, tapi kami menikmati perjalanan di pagi itu.

Setibanya di Cirebon, hal pertama yang kami lakukan adalah berwisata kuliner. Yap! Cirebon dengan kuliner khasnya menjadi daya tarik kami. Tempat pertama yang disambangi saat itu adalah Warung Nasi Jamblang Mang Dul, yang berada di Jalan Dr. Cinoto Maungunkusumo, atau tepat berada di depan CSB Mall.

Di sana banyak sekali menawarkan makanan khas Cirebon, seperti empal gentong dan nasi jamblang itu sendiri. Kebanyakan dari kami memesan empal gentong sebagai hidangan utama karena sedang ingin hidangan yang berkuah. Selain itu, kami juga mencoba lauk dari menu nasi jamblangnya itu sendiri, seperti tempe goreng yang sangat renyah dan sate usus yang ditaburi serbuk kelapa.

Empal Gentong Mang Dul Cirebon

Empal Gentong Mang Dul Cirebon

Pagi itu seolah menjadi salam pembuka dari perjalanan kami, yang mana kuliner merupakan esensi atau bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah perjalanan. Setelah makan, terbesit pemikiran untuk melanjutkan perjalanan ke Semarang.

Maklum, dari Cirebon menuju Semarang dapat ditempuh hanya dengan waktu 3 jam lagi. Teman-teman saya pun mengiyakan keinginan itu, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Semarang, tentunya setelah menghadiri resepsi pernikahan teman kami.

Tragedi KM 360; Pilu, Ceroboh tapi Berkesan

Pada mulanya kami memang memutuskan untuk menikmati kota Cirebon dengan bermalam di sana. Tapi entah kenapa Semarang sangatlah menggoda hasrat, seolah-olah menunggu kedatangan kami di sana. Tanpa persiapan khusus, pukul 13.00 WIB kami menancapkan gas menuju Semarang yang jaraknya kurang lebih 233KM.

Karena waktu yang terbatas, kami tidak mencari referensi perjalanan secara khusus, kami hanya ingin menikmati kota Semarang, kuliner dan tempat-tempat yang autentik di sana. Sepanjang perjalanan, kami berdiskusi untuk mencari tempat di mana akan menginap.

Setelah mempertimbangkan berbagi hal, akhirnya kami memutuskan untuk menetap satu malam di Hotel Holiday Inn Express yang berada di kawasan Simpang Lima. Tempat yang cukup strategis karena berada di kawasan pusat kota.

Saat perjalanan kami sibuk dan asik membahas perihal rencana pribadi dan menceritakan segala hal, dimulai candaan maupun prospek karir ke depan. Kebetulaan saat itu saya duduk di depan menemani Dimas yang sedang nyetir, sementara Dicky dan Fajzar duduk di belakang.

KM 360 Menuju Semarang

KM 360 Menuju Semarang

Di tengah perjalanan saya sempat tertidur, Dicky dan Fajzar masih asyik bercerita dan Dimas tengah fokus menyetir. Ketika terbangun di KM 340, pada pukul 14.40 WIB saya melihat bahwa bar bensin yang tertera sudah berkedap-kedip.

Sontak membuat kami panik dan segera mencari rest area terdekat. Namun setelah beberapa kilo melaju, rest area tersebut tidak kunjung kami temui.

Info yang kami peroleh berdasarkan searching di google bahwa ada rest area di KM 360, lalu kami melipir ke bahu jalan karena situasi kendaraan yang sudah semakin melamban. Sesampainya di KM 360, ternyata kami keliru bahwa rest area berada di sebrang jalan dan bertepatan dengan itu mobil kami yang kehabisan bensin berhenti kurang lebih 300 meter di sebrang rest area tersebut.

Kami akhirnya menghubungi layanan Jasa Marga 14080 dan memberikan informasi bahwa mobil yang kami kendarai mogok di KM 360. Antara cemas tapi lucu sih, info yang kami terima bahwa mobil akan di derek hingga rest area terdekat.

Tak lama, dari seberang jalan petugas jasa marga bergegas menghampiri kami, namanya mas Bintang dan mas Rizal. Mereka ramah dan hanya tersenyum melihat kondisi tersebut, meskipun tentunya kami yang salah, hehe. Setelah berdiskusi, mereka memutuskan untuk membelikan kami bahan bakar di seberang jalan.

30 menit kemudian, mereka datang dengan membawa bahan bakar yang kami tunggu dan akhirnya perjalanan yang tersisa kurang lebih 60km lagi dapat kita lanjutkan. Pilu, tapi kami menganggap ini hanya gimmick dari sebuah perjalanan.

Habis Bensin di KM360

Habis Bensin di KM360

Selamat Datang Semarang!

Sekitar pukul 16.30 WIB kami pun tiba di tol exit Semarang. Bagi Dimas dan Dicky, tentunya ini menjadi pengalaman pertama mereka mengunjungi kota ini. Hal yang memutuskan kami akhirnya untuk berkunjung kemari adalah kenyamanan dan kerapihan kotanya, sembari menemui teman SMA kami, Sofa yang sudah pindah ke Semarang semenjak menikah.

Kami sangat terkesan berada di sini, dengan disambut rintik hujan, suasana yang tentram dan kondisi lalu lintas yang teratur. Setelah menelusuri jalan Siliwangi – Jenderal Sudirman – Pandanaran dan akhirnya tiba di Holiday Inn Express Simpang Lima.

Sampainya di lobby hotel, kami bergegas untuk mengeluarkan barang-barang yang akan dibawa dan check-in. Dimas terlihat cakap berbicara dengan petugas hotel yang di sana, maklum dia merupakan pegawai di salah satu hotel ternama di Jakarta, pastinya dia paham betul bagaimana tentang industri perhotelan.

Tiba di kamar tidak lantas membuat kami untuk berleha-leha, karena Sofa sudah menunggu kedatangan kami sejak siang tadi. Sehabis sholat maghrib, kami langsung merapat ke kediaman Sofa untuk menjemputnya dan mengajak untuk mencari kuliner khas Semarang.

Di tengah kondisi hamil empat bulan, dia terlihat sehat dan kuat, bahkan antusias menunggu kehadiran kami. Sepanjang perjalanan, Sofa banyak sekali menceritakan kehidupannya setelah ia pindah ke Semarang dan banyak memberikan pengalamannya setelah menikah. Maklum, kami semua masih bujangan.

Jalan Gadjah Mada menjadi tujuan, Sofa mengajak kami untuk menyantap Tahu Pong di sana. Katanya, makanan ini cukup terkenal di Semarang. Kami memesan variasi menu yang berbeda supaya bisa menyicipi satu sama lain. Dan benar, ternyata rasanya enak sekali. Teksturnya yang manis memberikan karakter yang kuat dari kuliner khas Jawa yang cenderung manis.

Tahu Pong Khas Semarang

Tahu Pong Khas Semarang

Kami menikmati santapan malam tersebut sambil bercengkrama. Meskipun hujan mengguyur Semarang, malam itu terasa hangat karena di balut selimut kebersamaan dan kerinduan.

Lama bercerita, akhirnya kami mengantarkan kembali Sofa pulang ke rumahnya dan kembali ke hotel untuk bersantai dan beristirahat.

Kota Lama Dengan Entitas Heritage Khas Kolonial

Minggu pagi, kami berencana hunting gambar selepas matahari terbit. Berhubung hujan, hal tersebut urung terjadi dan akhirnya molor beberapa jam sesuai rencana. Pukul 07.30, selepas sarapan di hotel, kami menuju kawasan Kota Lama Semarang dengan menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit dari hotel.

Marba, Bangunan Autentik Khas Kota Lama

Marba, Bangunan Autentik Khas Kota Lama

Hunting foto menjadi agenda yang tak terlewatkan, Kota Lama memiliki tempat yang estetik dan kerap sering dijadikan spot foto bagi wisatawan yang berkunjung ke sini, bahkan tak jarang dijadikan sebagai tempat untuk foto pre-wedding.

Kota Lama merupakan salah satu peninggalan dari kolonial yang berada di kota Semarang. Bangunan – bangunan tua berarsitektur Belanda itu masih tegak berdiri sampai saat ini.

Terdapat juga kanal – kanal yang mengelilingi bangunan Kota Lama seakan – akan kita melihat Belanda kecil (Little Netherland) di Kota Semarang. Karena datang terlalu pagi, belum ada café dan resto yang buka di sana. Meski demikian, sudah banyak lalu lalang aktifitas kendaraan dan masyarakat yang bersepeda bersama komunitasnya masing-masing.

Kami terus menelusuri setiap jengkalnya, dan mencari spot foto yang unik dan menarik untuk diabadikan bersama. Tak lama menelusuri, hujan kembali turun dan membuat kami berteduh di salah satu coffee shop di Kota Lama.

Setelah menikmati secangkir kopi dengan cukup lama, kami memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar sembari menunggu jadwal check out dan kembali ke Jakarta. Oleh-Oleh khas Semarang dan kuliner Soto Bangkong adalah tujuan kami setelah check out. Setelah selesai berbelanja, kemudian perjalanan pulang menuju kota perantauan pun dimulai kembali.

Walaupun pada perjalanan kali ini tidak ada rencana khusus, tapi traveling bersama ke Semarang setelah sekian lama, cukup memberikan healing kepada kami di tengah padatnya aktifitas Ibu Kota. Selanjutnya, kemana lagi kita?

Menelusuri Jalanan di Semarang

Menelusuri Jalanan di Semarang

Beri penilaian untuk postingan ini!
[Keseluruhan: 1 Rata-rata: 5]

Leave a Reply

Tags: