Gunung Prau, Matahari Terbit dan Lautan Awan #Dieng2020

Bermalam satu hari di desa Dieng rasanya sudah cukup bagi badan kami untuk beradaptasi. Walaupun Bandung tergolong sebagai kawasan yang dingin, kalau disandingkan dengan Dieng sih rasanya Kota Kembang itu masih ga ada apa-apanya.

Selain itu, perburuan Sunrise di Puncak Sikunir pagi tadi pun bisa sedikit menggambarkan bagaimana keadaan yang akan kita rasakan di Prau nanti (catatan perjalanan Sikunir menyusul). Yaaaa bisa dibilang hunting matahari terbit kala itu sebagai pemanasan sebelum kita mendaki ke tujuan yang sebenarnya.

Setelah terbiasa dengan hawa dan tentunya air yang dinginnya sangat menusuk, barulah pendakian kita dimulai. Yap, sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, siang ini kami akan memulai pendakian ke Gunung Prau via Jalur Dieng.

Sunrise di Gunung Prau

Sunrise di Gunung Prau 2590 mdpl

Belanja Perbekalan di Pasar

Sebelum menuju ke pos pendakian, kami terlebih dahulu membeli sejumlah perbekalan di pasar terdekat. Karena sudah menentukan akan memasak dan makan apa di puncak nanti, jadi tak perlu waktu lama bagi kami untuk berbelanja.

Di pendakian kali ini saya, Dicky dan Fajzar sudah berkomitmen untuk tidak akan mengkonsumsi mie instan. Ga ada masalah apapun sih, hanya saja kita ingin coba untuk memasak dengan bahan mentah yang sudah dibeli di pasar.

Terlebih di desa Dieng ini terkenal sebagai penghasil kentang terbaik di Indonesia, rasanya sayang ga sih kalau kita engga coba buat mengolah dan mengkonsumsi makanan tersebut? Setelah semua logistik sudah dibeli, barulah kami melanjutkan perjalanan menuju Base Camp Dieng.

Prau via Base Camp Dieng

Sebenarnya terdapat beberapa jalur pendakian yang dapat dilalui, salah satunya yaitu mendaki Prau via Jalur Dieng. Alasan kami memutuskan untuk melalui jalur ini karena rekomendasi dari salah satu teman, yaitu Agung.

Ia berkata kalau melewati jalur Dieng ini, akan mendapatkan banyak ‘bonus’ di sepanjang perjalanan. Bonus yang dimaksud ialah pemandangan yang indah, hawa yang sejuk dan juga banyaknya spot atau tempat bagus yang akan terlewati sepanjang jalan.

Walaupun jalurnya lebih panjang ketimbang melalui Patak Banteng yang notabene hanya menanjak saja, kami tetap memutuskan akan memilih melalui jalur Dieng ini. Kebetulan, kami juga bermalam terlebih dahulu di Dieng, jadi yang terdekat dari penginapan ialah melalui jalur ini.

Kondisi Jalur Pendakian Prau

Kondisi jalur selama pendakian menuju Puncak Gunung Prau

Persyaratan untuk SIMAKSI

Saat melakukan pendakian ini, kondisinya memang sedang berada di tengah pandemi Covid-19. Tiap base camp berusaha untuk membatasi dan memperketat aturan sesuai anjuran pemerintah daerah agar tidak menjadi “kluster” covid baru.

Mendaki dengan kondisi seperti ini jelas ada plus minusnya. Hal buruknya, apabila kita tidak aware dengan protokol kesehatan yang dijalankan, maka akan sangat besar resiko untuk terpapar virus tersebut. Hal baiknya, jumlah pendaki menjadi jauh lebih sedikit dari biasanya, terutama di hari kerja (week day) seperti yang kami lakukan ini.

Saat itu (13 Agustus 2020) persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan izin/SIMAKSI pendakian hanyalah surat keterangan sehat yang dapat kita bawa dari daerah masing-masing. Berbeda halnya dengan beberapa minggu kemudian, ketentuannya diubah sehingga para pendaki wajib melakukan rapid test terlebjh dahulu.

Selain surat sehat, kami juga diwajibkan membawa peralatan, perbelakan dan juga logistik yang lengkap mulai dari tenda; sleeping bag; pakaian ganti; sarung tangan; dan juga makanan. Sama seperti di tiap basecamp pendakian, alat pengeras suara (speaker), minuman keras atau alkohol tidak diperbolehkan untuk dibawa.

Di Prau sendiri, kalian tidak diperbolehkan untuk membawa tissue basah. Apabila sudah terlanjur membeli maka bisa dititipkan di pos pendakian untuk nantinya diambil kembali saat pulang.

Nah yang kerennya dari pendakian ini, apabila kalian membawa rokok maka akan diberikan satu buah kaleng atau botol bekas untuk menampung seluruh puntung yang dihasilkan. Selain untuk menampung yang kita hasilkan sendiri, sebaiknya kalian juga mengumpulkan puntung yang berceceran di tanah agar kondisi gunung Prau tetap terjaga kebersihannya.

Selain masalah perbekalan, kami juga diwajibkan untuk mengisi beberapa data dan menyimpan KTP/ kartu pengenal di basecamp tersebut. Biaya simaksinya pun cukup murah, cukup membayar Rp100.000 saja untuk 3 orang pendaki dan biaya parkir satu kendaraan roda empat

Untuk persyaratan terupdatenya, kalian bisa mengetahuinya melalui akun media sosial dari tiap basecamp pendakian Gunung Prau.

Pendakian Menuju Prau Dimulai

Setelah semua persayaratan telah dilengkapi dan persiapan lainnya dirasa sudah cukup, kami memulai pendakian tepat pada pukul 13:40. Kondisi cuaca saat itu pun sangat mendukung, cukup berawan sehingga terik matahari tidak langsung menusuk kulit kita.

Untuk mencapai puncak Gunung Prau (via Dieng) kita akan melewati beberapa pos dengan kontur maupun vegetasi yang berbeda-beda.

Dari Basecamp menuju Pos 1, jalur yang dilalui yaitu area perkebunan warga dengan kontur datar dan sedikit menanjak. Waktu tempuh kami saat itu ialah sekitar 19 menit, tentunya akan berbeda-beda untuk tiap orang/pendaki.

Istirahat sejenak di Pos 1, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Medan yang kami lalui dominan dengan tanjakan dan sedikit jalan mendatar, walaupun begitu vegetasi hutannya membuat kami tetap segar.

Dari Pos 2Β  menuju Pos 3 pun kondisinya mirip dengan jalur pos sebelumnya. Jarak tempuh kami saat itu adalah 30 menit, sudah termasuk istirahat sesekali sembari beroto-foto.

Dari Pos 3 hingga puncak Prau (via dieng) jalurnya menjadi sedikit lebih terbuka. Walaupun begitu, hembusan angin dan pemandangan yang indah tetap membuat perjalanan terasa adem.

Gunung Prau via Jalur Dieng

Gunung Prau via Jalur Dieng

Selamat Datang di Puncak Prau 2590 MDPL

Setelah sekitar satu setengah jam, atau 1:41:37 jam lebih tepatnya, akhirnya kami sampai di Puncak Gunung Prau 2590 mdpl (via Dieng). Ohiya sekadar menginformasikan, terdapat beberapa puncak yang memiliki ketinggian berbeda di gunung ini, tergantung dari jalur mana kalian mendakinya.

Sembari beristirahat sejenak di puncak tak lupa kami juga mengabadikan momen yang ada, sampai pada akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Sunrise Camp Patak Banteng selama kurang lebih 40 menit. Sebenarnya untuk sampai kesana hanya dibutuhkan waktu sekitar 25 menit, tetapi kami memilih jalur memutar karena penasaran dengan apa yang akan disaksikan nanti (melewati bukit teletubbies).

Ternyata benar, dengan melewati bukit itu kami bisa melihat banyak pemandangan yang memukau. Walaupun jarak tempuh jadi lebih jauh, tetap semua hal itu sangatlah layak untuk diperjuangkan. Mau tau seperti apa pemandangannya? silahkan kalian coba sendiri lain kali haha.

Sunrise Camp Patak Banteng

Seteleah perjalanan beberapa menit ditempuh, akhirnya kami tiba juga di tempat kemah patak banteng, atau lebih dikenal sebagai Sunrise Camp Patak Banteng. Tak seperti info dari teman-teman yang bilang bahwa area kemahnya selalu penuh, nyatanya saat kami sampai masih banyak sekali spot kosong untuk mendirikan tenda.

Maklum saja, mungkin hal itu terjadi karena kami datang di hari kerja. Selain itu, di tengah kondisi pandemi seperti ini rasanya banyak orang yang mengurungkan niat untuk datang ke Prau.

H-3 Kemerdekaan Indonesia ke-75

H-3 Kemerdekaan Indonesia ke-75

Pemandangan Megah dari Sunrise Camp

Dari area kemah ini, dua gunung kembar, yaitu Sumbing dan Sindoro terlihat sangat gagah terpampang di depan mata kita. Selain itu, gunung merbabu dan merapi pun terlihat juga dari kejauhan.

Sembari istirahat kami menikmati pemandangan maha megah yang ada di hadapan kami. Saat itu kami merasa sangat kecil jika disandingkan dengan apa yang dilihat.

Bagi kami yang kesehariannya bekerja di Ibu Kota, pemandangan seperti ini sangat lah langka. Jadi wajar saja kalau saat itu kami sangat terkagum kagum dengan hal yang disajikan di depan mata, mohon dimaklum hehe.

Seusai beristirahat, kami segera bergegas memilih tempat untuk berkemah dan segera mendirikan tenda karena hari pun sudah mulai gelap. Tak lama, kabut mulai naik dan menyelimuti seluruh area camp, untung saja saat itu tendah sudah selesai didirikan.

Karena perut sudah terasa lapar kami pun segera menyiapkan peralatan memasak dan mengeluarkan bahan makanan yang telah dibeli di pasar. Menu makanan malam itu yang akan kami santap ialah Sop Ayam dengan bahan sayur segar yang kami beli di pasar tadi siang.

Saat sedang memasak, sesekali kabut tertiup angin sehingga pemandangan di langit sangat lah jelas terlihat. Yap, milky way atau galaksi bimasakti pun terlihat jelas beserta bintang-bintang lainnya yang menghiasi langit malam itu (seperti di Artapela).

Sayang saja, saat hendak menyiapkan kamera untuk mengabadikan momen itu, kabut kembali menutupi area perkemahan sehingga jarak pandang menjadi sangat terbatas. Tak apalah, yang penting pemandagan indah itu sudah terekam di ingatan kami masing-masing.

Setelah kenyang, karena kelelahan sudah mendaki 2 puncak sekaligus (sikunir dan prau), akhirnya kami memutuskan untuk istirahat. Ga lupa juga untuk set alarm di waktu subuh untuk melihat pemandangan matahari terbit, semoga besok harinya kami beruntung.

Sumbing Sindoro yang tampak megah

Sumbing Sindoro yang tampak megah

Matahari Terbit Terbaik Kami di Tahun 2020

Bukan tanpa alasan area kemah ini disebut sebagai “Sunrise Camp“. Saat pagi hari, di waktu matahari terbit lebih tepatnya, kalian akan disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indahnya.

Jika cuaca mendukung, lautan awan akan terpampang jelas di hadapan kalian, dipadukan dengan matahari yang muncul sedikit demi sedikit menembus horizon, membuat siapapun di sana berdegup kagum. Saat itu kami beruntung, karena hal indah itu dapat kami saksikan secara langsung.

Bagi kami, matahari terbit ini jauh lebih indah ketimbang yang kita lihat di Puncak Sikunir pada hari sebelumnya. Walaupun saat malam hari pemandangan langitnya tidak dapat kami nikmati, hal itu tergantikan dengan pemandangan sunrise yang sangat indah.

Setelah puas memandangi apa yang ada di hapdan, barulah berikutnya kami memasak sarapan dan bersiap-siap untuk turun ke basecamp melalui jalur yang sama. Pagi itu kami memasak kentang goreng dan ayam ungkep yang telah disiapkan semalam, sangat cukup untuk menambah energi sepanjang perjalanan pulang.

Selagi memasak, dari kejauhan rombongan dari tenda-tenda lain terlihat mulai turun satu per satu. Hanya ada beberapa rombongan saja saat ini yang tersisa, tengah berbincang santai sembari memandangi keindahan gunung di hadapan mereka.

Setelah perut terisi dan seluruh barang sudah rapih ter-packing, tepat pada pukul 11:05 kami memutuskan untuk turun ke basecamp dan langusng melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung.

Pemandangan dua gunung S (Sindoro - Sumbing) dari dalam tenda

Pemandangan dua gunung S (Sindoro – Sumbing) dari dalam tenda

Rekapan Pendakian Prau via Dieng

Perjalanan kami kali ini bisa dibilang cukup padat dan terburu-buru, karena dalam satu hari kami memutuskan untuk mendaki dua puncak sekaligus (sikunir dan prau). Kami mencoba untuk memaksimalkan kunjungan ke Dieng kali itu dikarenakan keterbatasan waktu yang tersedia.

Total Pengeluaran

Penginapan: Rp226.850 (3 orang)/ malam

Perbekalan & Logistik: Rp372.000 (orang)

SIMAKSI & Parkir Kendaraan: Rp100.000 (3 orang + 1 mobil)

Total Keseluruhan: Rp698.850/ 3 orang

Total Perorangan: Rp232.905/ orang

Sekian catatan perjalanan kami mengenai Pendakian ke Gunung Prau via Jalur Dieng, mohon maaf apabila terdapat kekurangan atau perbedaan informasi dari apa yang kami sampaikan. Jangan lupa untuk follow instagram kami @nyikreuh untuk mengetahui update mengenai catatan perjalanan terbaru kami.

Tonton juga video yang kami dokumentasikan saat pendakian hingga berada di Puncak Gunung Prau. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!

Beri penilaian untuk postingan ini!
[Keseluruhan: 3 Rata-rata: 5]

Leave a Reply